Sabtu, 26 Juni 2010

KEHIDUPAN TIDAK PASTI TETAPI KEMATIAN SUDAH PASTI

Tulisan in saya posting untuk mengingatkan kita untuk mengingat salah satu kontributor kita yang meninggalkan kita semua, melanjutkan kehidupan barunya, mudah-mudahan menjadikannya terlahir di alam yang lebih baik. Kematian memang akan datang kepada kita semua, cuma kapan, itu yang kita tidak tahu, dan tetap menjadi misterI bagi kehidupan manusia dan kehidupan banyak makhluk di alam semesta ini. Bahwa suatu saat kita akan kehilangan orang yang kita cintai, orang yang memiliki arti yang besar bagi kehidupan kita. Atau mungkin malah kita yang akan meninggalkan mereka.

Sepeti buah mangga di pohon, tidak semua jatuh pada waktu yang sama, ada yang masing bunga sudah gugur, ada yang masih kecil sudah jatuh, ada yang masih muda sudah jatuh, ada yang sudah mengkal jatuh, bahkan sampai jatuh sampai busuk. Demikian pula kehidupan manusia, kelahiran bukan jaminan untuk hidup selamanya, namun kematian pasti akan datang menjemput. Kita akan menyimak apa yang perrnah dituliskan oleh Sridharma nanda berikut ini, Bahwa Kehidupan itu tidak pasti, kematianlah yang pasti 

Sang Buddha bersabda: “Kehidupan tidak pasti, namun kematian itu pasti”. Setelah menyadari dengan jelas bahwa kematian pasti akan datang dan merupakan suatu akhir yang wajar, sertaharus dihadapi setiap makhluk maka sebenarnya kita tidak perlu takut akan kematian. Namun,kenyataannya masih banyak diantara kita yang merasa takut menghadapinya. Karena itu kitatidak ingin mengingat-ingat bahwa kematian itu tak terelakkan dan kita ingin terus melekat pada kehidupan tercinta ini.

Lahirnya seorang anak ke dunia membawa kebahagiaan dan kegembiraan bagi seluruh sanak keluarganya. Bahkan, sang ibu merasa sangat puas dan bahagia walau ia harus menanggung penderitaan yang hebat pada saat melahirkan. Ia merasa semua kesulitan dan penderitaan yang dialaminya cukup berharga untuk itu. Namun, sang anak pada waktu kelahirannya di dunia ini juga menunjukkan penderitaan yang turut ditanggungnya dengan menangis. Kemudian sang anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Ia melakukan berbagai perbuatan baik dan buruk. Dari dewasa kemudian menjadi tua dan akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini dengan meninggalkan sanak keluarga dalam kesedihan yang dalam. Demikianlah alur
kehidupan seorang manusia yang senantiasa berusaha membebaskan diri dari perangkap kematian ini, namun tak seorangpun yang mampu mengatasinya. Dengan pikiran yang berputar-putar di sekitar tabungan kekayaan yang telah dikumpulkannya dan terus-menerus mengkhawatirkan anak-anak tersayang yang berkumpul mengelilinginya, serta tidak ketinggalan pula selalu menjaga dan memperhatikan kesehatan tubuhnya.

Akan tetapi walaupun telah dirawat dengan hati-hati dan penuh perhatian, tetap akan kian lapuk dan melemah, yang akhirnya menimbulkan suatu kesedihan harus berpisah dengan tubuhnya tercinta. Hal demikian memang sukar diterima oleh kita, namun tak dapat dihindarkan oleh setiap orang, dan cara yang biasa ditempuh oleh kebanyakan orang dalam meninggalkan dunia ini adalah dengan keluh kesah dan ratap tangis. Kematian yang datang tiba-tiba telah dipandang sangat menakutkan, dan sikap ini timbul karena ketidak-tahuan mereka.

RASA TAKUT TERHADAP KEMATIAN
Manusia merasa terganggu bukan hanya diakibatkan oleh sebab-sebab dari luar, tetapi juga oleh sebab-sebab dari dalam, seperti misalnya pandangan mereka terhadap kematian. Hal ini sebenarnya tidak perlu ditakutkan, karena rasa takut dan ngeri hanya muncul di dalam pikiran kita. Keharusan untuk menerima kenyataan akan penderitaan sering menyakitkan, terutama bagi pikiran yang tidak mampu menghadapinya. Namun, hal ini dapat membantu mengurangi atau menghilangkan perasaan takut dalam menghadapi kematian. Sekali kehidupan dimulai, akan terus berlangsung seperti peluru yang meluncur menuju ke sasarannya, yaitu kematian.

Setelah menyadari hal ini, kita harus berani berhadapan muka dengan kefanaan kita sendiri, dan apabila kita ingin dipandang sebagai manusia yang bebas dalam kehidupan, maka kita harus bebas dari rasa takut terhadap kematian. Kita telah mengetahui bahwa ilmu pengetahuan mengajarkan tentang proses kematian, yakni bahwa kematian hanya merupakan suatu proses pelapukan fisik dari tubuh manusia. Karena itu kita tidak perlu membohongi diri sendiri dengan bayang-bayang atau khayalan-khayalan menyeramkan yang tak pernah terwujud. Seorang dokter termasyur, Sir Williams Oslet mengatakan: “Menurut pengalaman saya yang cukup lama di bidang kedokteran, sebenarnya banyak orang yang meninggal tanpa rasa sakit atau takut.”

Seorang perawat berpengalaman menceritakan pengalamannya sebagai berikut: “Bagiku selalu tampak sebagai suatu tragedi besar bahwa demikian banyak orang yang sepanjang hidup mereka dihantui ketakutan akan kematian, namun ketika saatnya tiba mereka akan menyadari bahwa kematian sama wajarnya seperti kehidupan itu sendiri dan hanya sedikit orang yang merasa takut pada saat menjelang kematiannya. Sepanjang pengalaman saya, hanya satu orang yang kelihatannya merasa ngeri, yakni seorang wanita yang telah berbuat salah terhadap saudara perempuannya, dan kesalahan itu sudah terlambat untuk diperbaiki kembali. Sesuatu yang indah dan mengherankan terjadi pada mereka yang telah tiba di penghujung jalan kehidupan mereka; semua rasa takut dan kengerian hilang lenyap. Saya seringkali mengamati kebahagiaan yang terpancar dari mata mereka pada saat-saat terakhir kehidupan mereka.

Kemelekatan terhadap kehidupan di dunia telah menciptakan rasa takut yang tidak wajar atas kematian, juga dapat menciptakan orang-orang Hypochordriac, yakni orang yang tidak pernah berani mengambil resiko, bahkan untuk sesuatu yang benar sekalipun. Orang-orang seperti itu hidup dalam ketakutan bahwa sesuatu penyakit atau kecelakaan dapat memutuskan hidup mereka yang begitu berharga dan sangat dicintainya. Dengan menyadari bahwa kematian tidak terelakkan, maka orang-orang yang mencintai hidup di dunia ini akan pergi berdoa untuk menyatakan harapan mereka, agar jiwa mereka diterima di surga. Namun, tak seorangpun dapat berbahagia dengan godaan rasa takut dan harapan seperti itu. Akan tetapi nampaknya sukar bagi kita untuk mencela atau tidak mau tahu atas segala perwujudan naluriah untuk keselamatan diri
mereka tersebut.

Hanya ada satu cara untuk mengatasi hal tersebut, yakni dengan cara melupakan kepentingan pribadi dan berusaha menolong orang lain disertai pancaran kasih sayang dari dalam diri kita, yaitu dengan mengembangkan pelayanan kemanusiaan dan mencurahkan kasih sayang terhadap semua makhluk. Karena melalui peningkatan pelayanan terhadap orang lain, maka anda akan segera menyadari sendiri bahwa segala harapan dan kemelekatan yang mementingkan diri sendiri, kesombongan dan anggapan hanya diri sendiri benar adalah tidak bermanfaat sama sekali.

PENYAKIT DAN KEMATIAN
Diserang penyakit ataupun kematian merupakan gejala-gejala yang wajar dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita dan semua itu harus diterima dengan keseimbangan batin. Menurut teori Ilmu Jiwa Modern, tekanan mental yang berat dan hebat disebabkan oleh penolakan kita untuk menghadapi dan menerima kenyataan-kenyataan hidup. Tekanan-tekanan tersebut bila tidak diatasi akan dapat menimbulkan penyakit fisik yang hebat, dan apabila kita membiarkan perasaan cemas dan sedih yang tidak pada tempatnya dalam menghadapi suatu masalah, malah akan dapat memperburuk keadaan.

Kematian tidak seharusnya ditakuti oleh mereka yang bersih dalam pikiran dan perbuatan. Kita hanya merupakan bagian kehidupan dari alam semesta, oleh karena itu pada hakekatnya tidak ada suatu pribadi individu yang meninggal dunia. Sisa-sisa karma sebagai hasil buruk yang muncul dari perbuatan jahat di masa lampau dapat mengikuti kita pada kelahiran kita yang berikutnya, dan menyebabkan kita harus memikul penderitaan akibat karma pada kehidupan yang lalu. Kejadian semacam itu dapat dihindari jika kita selalu berusaha mengumpulkan jasa-jasa kebaikan, dengan cara menjalani kehidupan yang baik dan banyak melakukan perbuatan baik di mana saja dan setiap saat bila memungkinkan. Dengan melakukan hal itu kita dapat menghadapi masa depan tanpa rasa takut dan penuh keyakinan. Kita harus berani menghadapi dan menerima kenyataan, sesuai dengan ajaran Sang Buddha bahwa tidak ada “Juru Selamat” yang dapat diserahkan untuk memikul beban kita agar terbebas dari akibat perbuatan jahat yang pernah kita lakukan.

Kita harus kerapkali mengingatkan diri sendiri akan nasihat Sang Buddha: “Jadikanlah dirimu sebagai pulau dan pelindung bagi dirimu sendiri dengan bekerja dan berusaha yang giat”. Umat Buddha tidak seharusnya tenggelam ke dalam ratap tangis dan kesedihan yang hebat dalam menghadapi kematian dari sanak saudara ataupun teman-teman mereka, karena roda kehidupan terus berputar tanpa hentinya. Bila seseorang meninggal dan hasil perbuatannya (karma) menjadikannya suatu makhluk baru, mereka yang ditinggalkan harus menerima kematian tersebut dengan ketenangan, keluhuran budi dan pengertian bahwa kematian hanya merupakan suatu proses yang tak terhindarkan di dunia ini.

Hal ini merupakan sesuatu yang pasti terjadi di alam semesta, dan kita tahu bahwa hutan bisa menjadi kota dan kota dapat menjadi padang pasir, serta gunung dapat berubah menjadi danau. Ketidak pastian terdapat di mana-mana, namun hanya ada satu hal yang pasti, yakni “kematian” dan semua hal lain hanyalah bersifat sementara. Kita semua mempunyai nenek moyang dan nenek moyang kita pun mempunyai nenek moyang juga, namun di mana mereka kini berada? Mereka telah pergi ke “Gerbang Kematian”.

Janganlah menganggap bahwa pandangan pesimis terhadap kehidupan yang dimunculkan di sini merupakan pandangan yang paling sesuai dengan kenyataan dari semua kenyataan. Untuk apa kita menghindari diri dari kenyataan dan menutup mata kita terhadap suatu kenyataan yang sudah pasti, karena bukankah kematian itu mencakup segala hal? Maka janganlah kita sampai melupakannya. Peranan kematian adalah untuk menyadarkan setiap manusia akan akhir kehidupannya, bahwa betapa tinggi pun tempatnya, apapun bantuan teknologi ataupun Ilmu Kedokteran yang dimilikinya, pada akhirnya tetap harus mengalami hal yang sama, apakah di dalam kubur ataupun menjadi segenggam debu. Haruskah karena hal itu kita kemudian mengenakan kain karung dan meratapi kehidupan yang telah menjadi debu? Tidak! Hal demikian bukanlah merupakan tujuan hidup, bukan pula tujuan dari kematian, karena proses kelahiran dan kematian akan terus berlangsung hingga kita mencapai kesempurnaan batin. 

EKSISTENSI PENGARUH MANUSIA
Sang Buddha berkata: “Tubuh manusia dapat berubah menjadi debu, namun pengaruhnya tetap bertahan”. Pengaruh kehidupan yang telah berlalu kadang-kadang dapat menjangkau waktu yang lebih jauh dan lebih potensial bila dibandingkan dengan masa hidup seseorang yang mempunyai batas-batas waktu tertentu. Seringkali kita bertindak berdasarkan ilham dari kepribadiankepribadian yang pemiliknya telah menjadi debu. Dalam tindak-tanduk kita hasil-hasil pikiran mereka juga memainkan peranan penting. Setiap manusia yang hidup di dunia ini dapat dikatakan merupakan susunan dari semua nenek moyang yang telah mendahului kita. Dengan anggapan semacam ini, maka para pahlawan di masa lampau, para filsuf terkemuka, para pertapa, penyair dan para seniman musik dari keturunan apapun, karya mereka tetap ada bersama kita.

Bila kita menghubung-hubungkan diri sendiri dengan orang-orang suci dan para pemikir di masa lampau kita dapat memperoleh kebijaksanaan hasil pemikiran mereka, ide-ide mulia mereka dan bahkan musik klasik yang abadi. Karena walaupun tubuh mereka sudah lama musnah, namun pengaruh mereka masih tetap hidup hingga kini. “Tubuh” ini bukan merupakan apa-apa selain perwujudan abstrak dari kombinasi unsur-unsur kimia yang terus-menerus berubah. Maka insan manusia yang menyadari bahwa hidup mereka hanya seperti setetes air di sungai yang terus mengalir, akan merasa bahagia bila dapat memberi andil bagi arus besar yang disebut kehidupan. Insan manusia yang lupa akan kewajaran hidup mereka akan terhempas di dunia ini. Ia meratap,
bersedih dan kadang-kadang tersenyum hanyalah untuk menangis kembali. Namun bila ia menyadari akan kewajaran hidup yang sesungguhnya, maka ia akan melepaskan semua bendabenda yang bersifat sementara untuk mencari keabadian, ia harus menghadapi kematian yang berulang-ulang, karena kematian itu sendiri sukar untuk dihindari. Tidakkah manusia harus berusaha untuk mengatasi putaran kelahiran dan kematian yang terus-menerus ini? Menurut agama Buddha, kehidupan kita bukanlah kehidupan pertama atau terakhir yang harus kita jalani di dunia ini. Jika kita berbuat baik, maka akan mendapatkan hidup yang lebih baik pada kehidupan mendatang. Di samping itu, bila kita tidak ingin terlahir kembali, maka harus berjuang mencapai kebebasan akhir dengan selalu berusaha mengikis semua kekotoran batin yang ada pada pikiran kita.

FILSAFAT AGAMA BUDDHA
Para orang suci yang telah mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi tidak meratapi meninggalnya sanak kerabat mereka, karena mereka telah mengikis habis semua emosi manusiawinya. Yang Ariya Arahat Anuruddha tidak menangis ketika Sang Buddha Gotama wafat, namun Yang Ariya Ananda yang ketika itu baru mencapai tingkat kesucian Sotapanna atau Yang Masih Belajar, telah menunjukkan kesedihannya. Bhikkhu Ananda yang bersedih tersebut masih harus diingatkan mengenai pandangan Sang Buddha terhadap kematian melalui kata-kata sebagai berikut: “Ananda, bukankah Sang Buddha pernah mengatakan pada kita bahwa segala sesuatu yang dilahirkan, yang muncul, yang terbentuk, akan lenyap kembali? Ini merupakan sifat dari semua bentuk yang bersyarat, yakni muncul dan akan lenyap kembali. Dengan menyadari bahwa semua itu akan lenyap kembali, maka muncullah kedamaian dan kemuliaan”. Kata-kata ini menguraikan suatu dasar yang di atasnya dibangun bangunan Filsafat Agama Buddha.

PENYEBAB KESEDIHAN
Sebab dari kesedihan dan penderitaan kita ialah kemelekatan (Tanha) dalam segala bentuknya. Jika kita ingin menghentikan kesedihan, maka kita harus membuang kemelekatan, baik kemelekatan terhadap manusia maupun terhadap harta benda. Hal ini merupakan pelajaran kebenaran tentang kematian, karena kematian akan menyerang dan mengisi hidup kita dengan kengerian, kecuali bila kita telah dapat memahaminya. Kenyataan ini dengan indah telah dibabarkan oleh Sang Buddha melalui sabda berikut ini: “Kematian akan menyeret manusia yang melekat pada anak-anak dan harta bendanya, bagaikan banjir besar menyeret desa yang tertidur”. Dalam peribahasa tersebut tersirat makna bahwa bila desa itu tidak tertidur namun terjaga dengan waspada, maka kerugian yang ditimbulkan oleh banjir tersebut akan dapat berkurang jauh.

KEMATIAN BERLAKU BAGI SELURUH ALAM SEMESTA
Marilah kita melihat bagaimana Sang Buddha menyelesaikan masalah kematian yang menimpa diri dua orang, yang karena kemelekatan mereka telah menderita kesedihan hebat akibat adanya kematian. Pertama adalah kisagotami yang putra tunggalnya meninggal dunia setelah digigit seekor ular. Ia pergi menemui Sang Buddha sambil menggendong mayat putranya untuk memohon pertolongan agar menghidupkannya kembali. Sang Buddha memintanya membawa segenggam biji lada dari satu keluarga yang tidak pernah mengalami kematian, namun ia tidak dapat menemukan keluarga seperti itu. Setiap rumah yang didatangi sedang berkabung atau pernah berkabung atas kematian orang tua ataupun sanak saudara mereka. Akhirnya ia dapat menyadari kenyataan hidup yang pahit ini. Kematian berlaku dimana-mana. Kematian akan menyerang semua makhluk dan tak satupun yang dapat terlolos darinya. Karena itu kesedihan merupakan warisan bagi semua orang.

Orang kedua yang mendapat pertolongan dan bimbingan Sang Buddha adalah Patacara. Hal yang dialaminya jauh lebih menyedihkan, yakni dalam waktu yang singkat ia telah kehilangan kedua putranya, suami, saudara, orang tua, dan seluruh harta bendanya, bahkan kehilangan akalnya. Ia berlari-lari dengan bertelanjang dan liar di jalan-jalan hingga akhirnya berjumpa dengan Sang Buddha. Sang Buddha telah membuatnya waras kembali dengan menjelaskan bahwa kematian harus dapat kita terima sebagai suatu gejala yang wajar bagi setiap makhluk hidup. Sang Buddha berkata: “Engkau telah menderita dari keadaan yang serupa bukan hanya sekali,
Patacara. Namun telah berulang kali selama kelahiran-kelahiran terdahulu. Untuk waktu yang lama sekali engkau telah menderita akibat kematian ayah dan ibu, anak dan sanak kerabat. Selama engkau menderita telah meneteskan air mata lebih banyak dibandingkan dengan air yang ada di samudra”.

Pada akhir pembicaraan tersebut, Patacara menyadari akan ketidak-pastian dari kehidupan ini. Baik Patacara maupun Kisagotami dapat memahami penderitaan dari pengalaman tragis mereka sendiri. Dengan menyadari sungguh-sungguh akan Kesunyataan Mulia yang pertama yakni “Penderitaan”, maka ketiga Kesunyataan Mulia lainnya juga akan dapat dipahami. Sang Buddha bersabda: “Barang siapa yang mengerti akan penderitaan, juga akan mengerti munculnya penderitaan, lenyapnya penderitaan dan jalan untuk melenyapkan penderitaan”.

LIMA KELOMPOK KEHIDUPAN
Kematian menurut definisi yang terdapat dalam kitab suci Agama Buddha adalah hancurnya Khanda. Khanda adalah lima kelompok yang terdiri dari pencerapan, perasaan, bentuk-bentuk pikiran, kesadaran dan tubuh jasmani atau materi. Keempat kelompok yang pertama adalah kelompok batin atau NAMA yang membentuk suatu kesatuan kesadaran. Kelompok kelima adalah RUPA, yakni kelompok fisik atau materi. Gabungan batin dan jasmani ini secara umum dinamakan individu, pribadi atau ego. Sebenarnya apa yang ada bukanlah merupakan suatu individu yang berwujud seperti itu. Namun dua unsur pembentuk utama, yakni NAMA dan
RUPA hanya merupakan fenomena belaka. Kita tidak melihat bahwa kelima kelompok ini sebagai fenomena, namun menganggapnya sebagai pribadi karena kebodohan pikiran kita, juga karena keinginan terpendam untuk memperlakukannya sebagai pribadi serta untuk melayani kepentingan kita.

Kita akan mampu melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bilamana memiliki kesadaran dan keinginan untuk melakukannya, yakni bila kita ingin melihat ke dalam pikiran sendiri dan mencatat dengan penuh perhatian (Sati). Mencatat secara objektif tanpa memproyeksikan suatu ego ke dalam proses ini dan kemudian mengembangkan latihan tersebut untuk waktu yang cukup lama, sebagaimana telah diajarkan oleh Sang Buddha dalam SATIPATHANA SUTTA. Maka kita akan melihat bahwa kelima kelompok ini bukan sebagai suatu pribadi lagi, melainkan sebagai suatu serial dari proses fisik dan mental. Dengan demikian kita tidak akan menyalahartikan kepalsuan sebagai kebenaran. Lalu kita akan dapat melihat bahwa kelompok-kelompok tersebut muncul dan lenyap secara berturut-turut hanya dalam sekejap, tak pernah sama untuk dua
saat yang berbeda; tak pernah diam namun selalu dalam keadaan mengalir; tak pernah dalam keadaan yang sedang berlangsung namun selalu dalam keadaan terbentuk. 

Masa berlangsungnya kelompok-kelompok mental ini sangat singkat sedemikian rupa, sehingga selama satu kilatan cahaya halilintar telah terjadi beribu-ibu bentuk pikiran atau saat berpikir yang berturutan dalam pikiran kita. Kelompok materi atau jasmani berlangsung sedikit lebih lama, yakni kira-kira tujuh belas kali dari saat berpikir tersebut. Karena itu setiap saat sepanjang kehidupan kita, bentuk-bentuk pikiran muncul dan lenyap. Lenyapnya yang dalam waktu sekejap mata ini merupakan suatu bentuk dari kematian. Lenyapnya elemen-elemen dalam waktu sekejap ini tidaklah jelas, karena kelompok-kelompok yang berturutan akan muncul dengan segera untuk menggantikan yang lenyap, dan mereka inipun muncul dan lenyap sebagaimana terjadi dengan hal-hal terdahulu. Inilah yang kita katakan sebagai “Terus berlangsungnya kehidupan”. Namun dengan berjalannya waktu, maka kelompok materi atau jasmani kehilangan kekuatannya dan mulai terjadi kelapukan. Saatnya akan tiba di mana kelompok-kelompok ini tidak dapat berfungsi lebih lanjut, dan menurut istilah yang biasa dipakai inilah akhir dari suatu kehidupan yang kita sebut sebagai “Terjadinya kematian”.

KELAHIRAN KEMBALI
Namun, keempat kelompok mental, yaitu: kesadaran dan ketiga kelompok mental lainnya yang membentuk “NAMA” atau “KESATUAN KESADARAN” akan terus berlangsung tanpa berhenti. Muncul dan lenyap seperti semula, walaupun tidak pada tempat yang sama, karena tempat terdahulu telah tiada. Kelompok-kelompok mental ini harus segera menemukan suatu landasan fisik yang baru seperti saat sebelumnya agar ia dapat berfungsi dengan serasi. Hukum karmalah yang melakukan kesemua ini, yakni dengan segera menempatkan kembali kelompokkelompok tersebut, yang kita kenal sebagai “KELAHIRAN KEMBALI”.

Akan tetapi perlu kita ketahui bahwa sesuai dengan Ajaran Agama Buddha, tidak dikenal adanya perpindahan jiwa suatu inti dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Menurut filsafat agama Buddha, apa yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa “JAVANA” atau “PROSES BERPIKIR AKTIF YANG TERAKHIR” dari orang yang meninggal dunia telah melepaskan kekuatan-kekuatan tertentu, yang bervariasi sesuai dengan kesucian dari kelima saat berpikir Javana dalam serial tersebut (Lima, bukannya tujuh saat berpikir Javana seperti pada keadaan normal). Kekuatan-kekuatan ini disebut “KAMMA VEGA” atau “TENAGA KARMA” yang mendekatkan diri pada suatu landasan materi yang dihasilkan oleh sepasang orang tua dalam rahim seorang ibu. Kelompok materi dalam gabungan benih ini harus memiliki sifat yang sesuai untuk menerima jenis tertentu dari tenaga karma tersebut. Pendekatan diri dengan cara ini dari berbagai jenis kelompok jasmani yang dihasilkan oleh sepasang orang tua, terjadi melalui bekerjanya kematian yang memberikan suatu peluang bagi kelahiran kembali yang menguntungkan pada seseorang yang meninggal dunia. Namun pikiran yang tidak baik akan menghasilkan suatu kelahiran kembali yang tidak menyenangkan. 

KUMPULAN UNSUR DAN TENAGA
Secara singkat dapat kita katakan bahwa kombinasi dari kelima kelompok disebut “kelahiran”. Munculnya kelompok-kelompok tersebut dalam suatu kumpulan disebut “kehidupan”, sedangkan lenyapnya kelompok-kelompok tersebut disebut “kematian”, dan penggabungan kembali kelompok-kelompok ini disebut “kelahiran kembali”. Namun tidaklah mudah bagi seorang manusia biasa untuk mengerti bagaimana kelompok-kelompok tersebut bergabung kembali. Dalam hal ini pengertian yang benar akan sifat tenaga-tenaga karma, mental dan unsur-unsur, serta kerja sama tenaga-tenaga alam semesta adalah sangat penting kita ketahui. Bagi sementara
orang kejadian yang sederhana dan wajar ini, yakni kematian hanya berarti meleburnya kelima unsur dengan kelima unsur yang sama, sehingga menurut mereka tidak ada yang tersisa. Sementara itu ada pula kelompok orang yang berpendapat bahwa kematian adalah berpindahnya jiwa dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Ada juga kelompok yang menganggap kematian itu merupakan masa transisi yang tak terbatas dari jiwa, atau dengan kata lain kematian adalah menunggu hari pengadilan (akhir). Bagi umat Buddha, kematian hanya merupakan akhir sementara dari gejala yang bersifat sementara, dan kematian bukan merupakan kemusnahan total dari suatu makhluk.

SEBAB-SEBAB TERJADINYA KEMATIAN
Menurut agama Buddha, kematian dapat terjadi disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
 (i) Kematian dapat disebabkan oleh habisnya masa hidup sesuatu makhluk tertentu.
     Kematian semacam ini disebut “AYU-KHAYA”.
(ii) Kematian yang disebabkan oleh habisnya tenaga karma yang telah membuat
      terjadinya kelahiran dari makhluk yang meninggal tersebut. Hal ini disebut
“KAMMA-KHAYA”.
(iii) Kematian yang disebabkan oleh berakhirnya kedua sebab tersebut di atas, yang
       terjadi secara berturut-turut. Disebut “UBHAYAKKHAYA”.
(iv) Kematian yang disebabkan oleh keadaan luar, yaitu: kecelakaan, kejadian-kejadian
      yang tidak pada waktunya, atau bekerjanya gejala alam dari suatu karma akibat
      kelahiran terdahulu yang tidak termasuk dalam butir (iii) di atas. Disebut
“UPACHEDAKKA”.
Ada suatu perumpamaan yang tepat sekali untuk menjelaskan keempat macam kematian ini, yaitu
perumpamaan dari sebuah lampu minyak yang cahayanya diibaratkan sebagai kehidupan.
Cahaya dari lampu minyak dapat padam akibat salah satu sebab berikut ini:
(i) Sumbu dalam lampu telah habis terbakar. Hal ini serupa dengan kematian akibat
     berakhirnya masa hidup suatu makhluk.
(ii) Habisnya minyak dalam lampu seperti halnya dengan kematian akibat berakhirnya
     tenaga karma.
(iii) Habisnya minyak dalam lampu dan terbakar habisnya sumbu lampu pada saat
     bersamaan, sama halnya seperti kematian akibat kombinasi dari sebab-sebab yang
     diuraikan pada butir (i) dan (ii) di atas.
(iv) Pengaruh dari faktor luar, misalnya ada angin yang meniup padam api lampu. Sama
      halnya seperti kematian yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar.

Oleh karena itu karma bukan merupakan satu-satunya sebab dari kematian. Dalam Anguttara Nikaya dan Kitab-kitab lainnya, Sang Buddha menyatakan dengan pasti bahwa karma bukan merupakan penyebab dari segala hal.

CARA MENGHADAPI KENYATAAN
Bagaimana cara terbaik bagi seseorang dalam menghadapi peristiwa kematian yang tak terelakkan ini? Terlebih dahulu kita harus menyadari dan merenungkan bahwa kematian akan dan pasti tiba dalam waktu yang cepat atau lambat. Akan tetapi hal ini bukanlah berarti umat Buddha harus memandang kehidupan dengan suram, karena kematian merupakan kenyataan dan harus dihadapi oleh setiap makhluk. Buddha-Dhamma adalah suatu agama atau Ajaran yang dapat diterima oleh akal pikiran dan umat Buddha dilatih untuk menghadapi kenyataan yang kadangkadang tidak menyenangkan. Guru Nanak berkata: “Dunia mencemaskan kematian, tetapi bagiku kematian itu membawa kebahagiaan”. Hal ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang besar dan mulia tidak takut akan kematian, dan mereka selalu siap menghadapinya. Banyak orang besar yang telah mengorbankan hidup mereka demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak.
Nama-nama mereka tercatat dalam sejarah dunia dengan tinta emas. Pemimpin besar Amerika, Saul Alinsky berkata: “Satu hal terpenting yang pernah saya pelajari adalah bahwa saya akan mengalami kematian, dan sekali anda dapat menerima kematianmu sendiri, maka seketika itu juga anda bebas untuk hidup. Anda tidak lagi peduli dan selama hidup  dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai suatu tujuan yang anda yakini”. Hal ini merupakan cara pribadi-pribadi besar memandang konsep tentang kematian.

KEMATIAN TAK TERELAKKAN
Tampaknya agak bertentangan bahwa meskipun kita seringkali melihat kematian yang menghentikan kehidupan, namun kita jarang sekali berhenti untuk merenungkan bahwa kitapun dapat dengan segera menjadi korban maut. Karena keterikatan kita yang kuat terhadap kehidupan, maka merasa segan untuk membawa-bawa pikiran yang menakutkan tersebut. Walaupun merupakan suatu kenyataan bahwa kematian adalah suatu kejadian yang pasti. Namun kita lebih suka menyingkirkan pikiran yang menakutkan ini sejauh mungkin, dan menipu diri sendiri dengan menganggap bahwa kematian hanya merupakan gejala yang jauh dan tidak perlu
dirisaukan. Kita harus mempunyai cukup keberanian untuk menghadapi kenyataan tersebut dan harus siap menerima bahwa kematian merupakan kejadian yang nyata. Jika kita dapat menghargai peristiwa seperti itu dan melengkapi diri dengan kesadaran bahwa kematian merupakan suatu peristiwa tak terelakkan, yang harus diterima sebagai suatu kejadian biasa dan bukan merupakan suatu peristiwa yang menakutkan, maka kita akan mampu menghadapi, bilamana peristiwa itu tiba, dengan ketenangan, keberanian dan kepercayaan diri.

TUGAS DAN KEWAJIBAN KITA
Setelah mengetahui bahwa kematian akan menghampiri kita pada suatu saat, maka kita harus dapat memutuskan dengan ketenangan, keberanian dan kepercayaan diri yang sama untuk melepaskan tugas dan kewajiban kita pada generasi penerus. Kita tidak boleh berleha-leha dan menunda hingga besok hal-hal yang dapat kita kerjakan hari ini. Kita harus dapat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan menjalankan kehidupan yang bermanfaat. Tugas terhadap istri atau suami dan anak-anak harus dijalankan dalam waktu yang sama. Kita harus melaksanakan keinginan dan wasiat terakhir tanpa menunggu saat-saat yang terakhir, sehingga di kemudian hari tidak menimbulkan kesulitan dan masalah akibat dari kelalaian kesulitan dan masalah akibat dari kelalaian itu. Kematian dapat memanggil setiap saat dan tidak mengenal waktu, oleh sebab itu kita harus mampu menghadapi saat-saat terakhir dengan berani dan tenang.

KESERAKAHAN DAN KEBODOHAN
Dapatkah kematian diatasi? Jawabannya adalah dapat! Kematian terjadi karena adanya kelahiran. Hal ini merupakan dua mata rantai dalam lingkaran kehidupan yang dikenal dengan nama “PATTICA SAMUPPADA”, dan keseluruhannya ada dua belas mata rantai dalam lingkaran tersebut, yang beberapa di antaranya adalah KILESA atau KEKOTORAN BATIN. Beberapa karma atau perbuatan menimbulkan VIPAKA atau HASIL (dalam lingkaran kehidupan ini) dan VIPAKA ini terjadi berulang-ulang. Pengulangan dari kelahiran yang tak terhitung ini disebut SAMSARA. Jika kita ingin menghentikan lingkaran kehidupan ini hanyalah dengan cara memotongnya pada tahap kekotoran batin, yaitu: AVIJJA (kebodohan) dan TANHA (nafsu keinginan). Inilah akar-akar dalam lingkaran kelahiran yang harus dimusnahkan, karena itu jika kita dapat memotong nafsu keinginan dan kebodohan, maka kelahiran akan dapat diatasi dan sekaligus kematian juga dapat diatasi, sehingga Samsara teratasi dan tercapailah NIBBANA.

SEGALA SESUATU ADALAH TIDAK PASTI
Kita harus berusaha mengerti bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini adalah tidak pasti. Kehidupan hanyalah suatu khayalan dan bayangan. Bila kita mengadakan analisa terhadap segala sesuatu, baik secara ilmu pengetahuan ataupun secara filosofis, maka akhirnya kita tidak akan menemukan apa-apa, kecuali kekosongan

Kamis, 20 Mei 2010

Keluarga Berencana


KELUARGA BERENCANA
DALAM PERSFEKTIF AGAMA BUDDHA
(Oleh: Sugimin Hadi Wibowo)



A.     Pendahuluhan

Hidup berkeluarga adalah pilihan setiap individu. Untuk itu didalam agama Buddha tidak ada larangan menikah atau tidak menikah. Dengan tujuan apabila menikah minimal bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga, dengan menjalankan kehidupan sebagai perumah tangga yang hidup sesuai dengan Dharma. Namun apa bila tidak menikah seyognya hidupnya untuk pengabdian kepada masyarakat , menjadi Rahib atau Hidup sebagai Viharawan atau Viharawati. Karena Kebahagian manusia tidak tergantung menikah atau tidak menikah.

Perumah tangga disamping sebagai siswa Buddha, terlibat aktib di dalam kemasyarakatan dalam pengabdianya kepada Bangsa dan Negara, diharapkan sekali untuk selalu Proaktif dalam setiap usaha pemerintah yang bertujuan untuk  mencapai masyrakat yang adil dan sejahtera.

Untuk mencapai tujuan tersebut harus di awali dari kelompok terkecil masyarakat yaitu Keluaraga. Standar kesejahteraan ini di harapkan semua kebutuhan manusia terpenuhi baik primer maupun sekunder. Oleh sebab itu langkah pemerintah di dalam menerapkan Program Keluarga Berencana sangatlah tepat sekali dengan harapan keluarga yang sedikit akan lebih terjangkau pemenuhan kebutuhannya.

Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga bahagia. Sesuai dengan anjuran pemerintah dalam  Program Keluarga Berencana, maka keluarga kecil (dengan dua orang anak) merupakan keluarga yang ideal, karena jumlah biaya untuk kebutuhan hidup menjadi lebih kecil, sedangkan untuk mencapai kebahagiaan hidup tidak tergantung pada banyaknya anak yang dimiliki. Anggapan masyrakat ‘Banyak anak banyak rejeki’ tidaklah berlaku jaman sekarang. Karena dengan banyak anak lebih dominan banyak masalah yang harus dihadapi dan banyak anggaran yang harus disiapkan untuk mendidik menjadi orang yang bermanfaat bagi kehidupan Bangsa dan Negara. 

B.     Pengertian Keluarga Berencana
Yang disebut Keluarga Berencana adalah: suami istri yang dapat membatasi dalam melahirkan anak-anaknya. Dalam hal ini mendukung dan berpartisipasi aktib dalam gerakan Keluarga Berencana. Tidak lain adalah untuk membina keluarga sejahtera lahir batin. Mendukung ketahanan Fisik kemajuan mental dan spiritual, dengan penjarangan kelahiran yang tidak bertentangan dalam agama Buddha.

C.     Dasar Pemikiran

Usaha Penjarangan kelahiran dapat diterima kecuali yang bertentangan dengan ajaran agama Buddha antara lain menurut Pañcasila Buddhis khususnya sila yang pertama yang berbunyi:
Panatipata Veramani Skkhapadam Samadiyami.
Pana artinya                     : napas, makhluk hidup
Atipata artinya                  : pemusnahan.
Veramani artinya              : Penghindaran atau pantangan.
Sikkhapadam artinya        : aturan dalam melatih diri.

Samadiyami artinya          : Kami/saya berjanji/bertekad

Terjemahan bebas            : Saya berjanji melatih diri Menghindari Pembunuhan
                                             Makhluk hidup.

Pembunuhan akan berakibat buruk yang akan membawa seseorang terlahir kembali (Tumimbal lahir/ Punarbhava) dialam menderita (Dugati), apabila dilakukan degan memenuhi syarat-syarat:
1). Adanya Makhluk
2). Sadar bahwa itu makhluk
3). Niat (cetana) untuk memebunuhnya.
4). Langkah-langkah Perbuatan (rencana)
5). Kematihan makhluk yang bersangkutan

Kelahiran secara umum bagi makhluk hidup adalah merupakan mulainya suatu kehidupan makhluk, yang bisa terjadi melalui:
1). Kandungan dalam rahim (manusia dan binatang)
2). Telur (binatang)
3). Kelembaban (binatang)
4). Spontan ( Jenis makhluk halus dan para Dewa)

Makhluk menurut ajaran agama Buddha adalah yang mempunyai sifat-sifat otonam sendiri artinya yang dapat memberi gejala hidup. Segumpalan  Sel yang mempunyai energi hidup (kekuatan Kamma). Energi hidup itu dimulai pada waktu bertemunya sel ovum dan sperma (sel pria dan wanita) melalui kekuatan kamma, yaitu getaran kamma dari kedua orang tuanya.

Getaran energi hidup yang berada diluar, yang akan masuk kedalam rahim ibu merupakan getaran anak dan orang tua dalam gelombang perkunjungan (frekwensi) getaran yang bertanda sama resonan turut getar merupakan proses terbentuknya unsur jasmani dan rohani(namarupa) dari suatu janin.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk terjadinya suatu Makhluk Yaitu:
1). Ibu masih mengalami daur haid ( Mata utuni hoti)
2). Hubungan Badan/ Kelamin ( Mata pitaro hoti)
3). Kesadaran ajal atau cuti citta ( Gandhabo paccuppatthito)

Bersatunya Syarat-syarat diatas serta dorangan oleh kekuatan Karma maka kesadaran ajal yang memadamkan makhluk yang meninggal akan berproses kembali dalam Patisandhi Vinnana ( kesadaran kelahiran kembali/ Punarbhava) dan selanjutnya menjadi kesadaran awal yang bergetar pada makhluk baru (Bhavanga citta).
Hal tersebut diatas merupakan suatu permulaan dari bentuk kehidupan baru (Namarupa).

Disamping itu Keluarga berencana sesuai dengan ide ilmiah moderen yaitu, ‘Hidup harus efesien, bermanfaat dan terencana, intelektuil, logis dan pragmatis’. Ditinjau dari segi  ekonomi, kesehatan, sangat menguntungkan karena dapat mengurangi frustasi, serta perhatian keluarga dan kontrol diri bisa terarah yang akan memebawa kearah ketenangan spiritual dan pemenuhan akan pendidikan yang sebaik-baiknya.

Sesuai dengan kemajuan jaman yang semakin mantap maka konsep ‘Emansipasi wanita’ untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah di dalam kesempatan hidup bermasyrakat serta untuk mengisi posisi disegala bidang dapat dijangkau oleh kaum wanita. Karena makin banyak hamil kemungkinan akan kurang perhatiannya atau Dharma Bhaktinya kepada masyrakat dan kesempatan menjalankan ibadah. Semakin jarang hamil atau terencana didalam melahirkan anak, kesempatan seluas-luasnya dapat di jangkau oleh kaum wanita. Sehingga kesetraan gender dapat dikejar oleh kaum wanita dengan penjarangan kelahiran anak.

Berdasarkan anjuran dari Guru Agung  Buddha Gotama yang selalu menganjurkan perdamaian semua makhluk, sangat sejalan apabila  standar kepadatan penduduk dunia bisa menurun karena memungkinkan ketenangan dan kedamian masyarakat dapat tercipta dengan berkurangnya setiap keresahan dan sifat permusuhan yang diakibatkan oleh peledakan penduduk yang akan berdampak diberbagai bidang. Dengan adanya keluarga berencanan maka kesejahteran setiap individi.akan mampu meningkatkan kwalitas setiap manusia.

Oleh sebab itu setiap individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri didalam memeperoleh kemajuan hidupnya.  Hal yang harus dilakukan adalah berdaya upaya untuk menentukan kehidupannya sendiri. Baik ataupun buruk adalah hasil dari kammanya sendiri. Oleh sebab itu manusia sangat punya kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.

Dalam memberikan wejangannya Sang Buddha kepada perumah tangga, yang termuat didalam Sigalovada Sutta, bahwa tugas utama orang tua akan berkurang intensitasnya dalam mengembangkan jiwa anak terutama dalam bidang pendidikan apabila memiliki banyak anak. Disamping itu juga berdasarkan Manggala sutta, bahwa:
memberi makan dan memelihara anak serta istri untuk kesejahteraanya, adalah merupakan berkah utama”.
Ini mendorong agar keluarga mencapai kebahagiaan termulia dengan mengatur
kehidupan keluarga itu dengan baik.

Disamping itu melahirkan anak bagi seorang ibu adalah beban yang berat. Beban yang dimaksud bukanlah suatu keterpaksaan yang harus dihindari oleh seorang ibu, tetapi ynag dimaksud berat adalah timbulnya rasa kekawatiran-kekawatiran karena rasa kasih-sayangnya seorang ibu terhadap anakanya. Hal ini seperti yang di sabdakan  Sang Buddha didalam Maha-Tanhasankhaya Sutta:
” Kini dengan tergabungnya tiga faktor, duhai para siswa, timbullah pertumbuhan janin. …jika  ayah dan ibu bersatu, tetapi ibu dalam masa subur dan ada gandaba, maka dengan tergabungnya ketiga faktor ini menjadikan pertumbuhan kehamilan. Janin yang di kandung sembilan atau sepuluh bulan, dengan penuh kekawatiran, yang merupakan beban sangat berat. Ibu melahirkan bayinya penuh kekawatiran, yang merupakan beban berat. Sang ibu memelihara dengan darahnya sendiri. Karena darah itu duh hai para siswa, dalam ajaran para ariya istilah untuk susu ibu”.


D.     Perkawinan Dalam Agama Buddha.

a.       Dasar perkawinan adalah cinta kasih sebagai suatu rangkaian sifat-sifat universal yang harus dikembangkan dalam keluarga. Cinta kasih dan kasih sayang merupakan dorongan utama orang tua dalam menjalankan tugasnya maupun untuk berkomonikasi antar keluarga.
b.      Nasehat-nasehat Sang Buddha dalam sigalovada Sutta kepada perumah
tangga merupakan hubungan timbal balik antara Suami, istri dan anak dengan tugas masing-masing:

1). Tugas Suami kepada Istri
(a). Menggunakan kata-kata lembut dan hormat kepada
             istrinya.
(b). Ramah tamah dan tidak menyalahkannya
(c). Setia kepada istrinya.
(d). Menyerahkan semua miliknya dan memberikan kekuasaan
                   untuk mengatur rumah tangga.
(e). Memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani dan memberikan
 hadiah-hadiah perhiasan sesuai dengan kemampuanya.

2). Tugas Istri Kepada Suami.
(a). Mengerjakan kewajiban sesuai dengan kemampuanya sebagai
 ibu  rumah tangga yang baik.
(b). Berlaku ramah terhadap sanak saudara, kawan-kawan baik
             suami dan pembantu rumah.
(c). Setia kepada suaminya.
(d). Melindungi milik suami.
(e). Pandai dan Rajin dalam usaha mengurus pekerjaan pekerjaan
yang  menjadi kewajibannya.

3). Tugas Orang Tua terhadap anak.
(a). Menganjurkan anak selalu berbuat kebajikan dan menjauhkan anak dari segala 
       bentuk kejahatan.
(b). Memberikan pendidikan yang baik dan cukup kepada anak.
(c). Mendorongya berbuat benar, berguna dan memberikan
 pelajaran  dalam bidang usaha untuk bekal hidupnya.
(d). Membantu dan membimbingnya dalam memilih pasangan yang baik serta pantas.
(e). Memberikan warisan pada waktunya sebagai bekal hidupnya.
                             
Disini jelaslah bahwa tugas orang tua sangat banyak dan berat, terutama didalam memeberikan Pendidikan, yang merupakan tugas utama orang tua.Kesejahteraan dan kebahagiaan anak merupakan perhatian yang sangat penting sebagai tanggung jawab orang tua.
c.       Tidak semua perkawinan bisa membuahkan keturunan. Yang penting adalah agar suami dan istri dapat saling mendorong untuk memncapai tingkatan kesempurnaan. Maka untuk keluarga yang tidak mendapatkan anak dalam perkawinanya hendaknya tetap rukun hingga mencapai pembebasan yang kekal dan abadi.

E.      Cara Menjarangka kelahiran yang tidak bertentangan dengan Agama Buddha.
a.   Dengan cara Medis.
1). IUD                                       :  Karena sifatnya pencegahan, bukan membunuh
                                                      maka dapat diterima dalam agama Buddha.
2). Pil/ Tablet/ Mini Pil                 :  menghambat pematangan sel telur. Namunn apa bila, ada jenis pil  untuk menggugurkan adalah tidak dibenarkan. Apapun alasannya,  karena melakukan pembunuhan.
3). Kondom/ Diafragma               :  menghalangi seperma masuk kedalam rahim dapat dibenarkan
4). Suntik                                    : Menghambat pematangan sel telur, dapat diterima dalam agama Buddha.
5). Susuk/ Norplant                     :  Bersifat mencegah, dapat dibenarkan.
4). Operasi yang bersifat tetap.
(a). Vasektomi                      : operasi memotong dan mengikat saluran seperma agar tidak terjadi pembuahan. Bisa dibenarkan tidak dianjurkan.
(b). Tubektomi                           : operasi memotong dan mengikat tuba falopi,  bisa  dibenarkan tidak dianjurkan.
*) mohon ditambahkan bila ada cara yang lebih mutakhir melalui komentar atau sent to guruagama.dps@gmail.com

                  Dari jenis-jenis cara tersebut diatas, yang sering dianjurkan adalah Pil dan IUD (Intra Uterine Device) atau spiral. Jika dengan cara Vasektomi atau sterilisasi hanya dibenarkan dan bukan paksaan, tetapi kesadaran demi kesehatan yang disetujui Dokter.
                 
                  Disamping berfungsi menjarangkan/ mengatur jarak kelahiran melalui program KB yang dianjurkan pemerintah, pemakaian alat kontrasepsi memiliki keuntungan-keuntungan dalam kesehatan.

  1. Cara Menurut Agama Buddha.
1). Pantangan dalam makanan atau minuman yang memabukkan dan yang
membangkitkan rangsangan sex. Sesuai dengan sila kelima dari pancasila Buddhis yang berbunyi:
Sura-meraya-majja-pamadatthana veramani-sikkhapadam sama-diyami.
Sura artinya                         :  Minuman yang dseteril
Meraya artinya                    :  Minuman yang diformentir (alkohol, arak  dll Zat
                                                yang bersifat memberikan rangsangaan)
Majjaartinya                        :  minuman keras.
Pamadatana artinya            :  Pengaruh acuh tak acuh terhadap Dhamma atau   
                                                 penghamburan waktu.
Veramani artinya                 :  Penghindaran atau pantangan.
Sikkhapadam artinya           :  aturan dalam melatih diri.
Samadiyami artinya             :  Kami/saya berjanji/bertekad
 Terjemahan Bebas              :  Saya berjanji melatih diri menghindari makanan dan 
                                                minuman yang memabukkan.
2). Patang berkala dengan melakukan puasa atau latihan atthasila (delapan sila) pada saat hari-hari uposatha yaitu tanggal, 1 (Purnama gelam), tanggal 8 (tengah purnama gelap dan terang), tanggal 15 (Purnama terang), Tanggal 23 (tengah purnama terang dan gelap). Dengan penekanan pada sila yang ketiga yang berbunyi:
Abrahmacariya Veramani Sikkha Padam Samadiyami.
Abrahma Carya artinya       :  Tidak selibat/ tidak berhubungan  badan.
Veramani artinya                 :  Penghindaran atau pantangan.
Sikkhapadam artinya           :  aturan dalam melatih diri.
Samadiyami artinya             :  Kami/saya berjanji/bertekad
Terjemahan Bebas               : Saya berjanji melatih diri menghindari hubungan badan/ kelamin
3).  Meditasi Vipassana Bhavana
(a). Perhatian penuh terhadap Jasmani.
(b). Perhatian penuh terhadap Pikiran.
(c). Perhatian penuh terhadap Kesadaran
(d). Perhatian penuh terhadap Batin

Agama Buddha membenarkan cara medis ataupun dengan cara agama karena bersifat pencegahan dan tidak ada delik pembunuhan atau penolakan terhadap berkah dari makhluk adi kodrati. Manusia memiliki keleluasan di dalam mengatur dan merencanakan kehidupan agar lebih sejahtera dengan cara-cara yang pantas dan tidak melanggar tatanan  sila/ vinaya. Karena kebahagian hanya dapat diperoleh dengan cara berbuat dan berdaya upaya.

Kedua macam cara tersebut diatas dapat diterima dan dilakukan karena tidak menimbulkan penderitaan pada suami maupun istri.

F.            Manfaat Keluarga Berencana
Central pembahasan dalam agama Buddha adalah pada manusia. Usaha yang telah dilakukan oleh Sidharta Gotama adalah untuk menolong semua makhluk agar terbebas dari penderitaan. Untuk membebaskan diri dari penderitaan Sang Buddha mengajarkan Tentang empat kesunyataan mulia ( Catur ariya Satyani) yang terdiri dari empat pembahasan yaitu:
1.      Dukkha artinya sulit dipikul
2.      Dukkha Samudaya artinya sebab Penderitaan.
3.      Dukkh Niroda artinya: Lenyapnya penderitaan.
4.      Dukkha niroda Gaminipatthipada artinya jalan menuju lenyapnya penderitaan

Dari empat kesunyataan mulia tersebut yang pertama harus disadari oleh setiap individu adalah suatu kenyataan bahwa hidup manusia itu selalu berubah-ubah. Ada saat-saat bahagia ada saat-saat menderita.
Yang kedua mengetahui sebab yang menjadi sumber penderitaan. Asebab-dari semua sebab yang menimbulkan penderitaan adalah napsu keinginan. Dengan memotong napsu keinginan penderitaan akan terputus dengan sendirinya.
Yang ketiga adalah yakin dan pasti bahwa penderitaan dapat dilenyapkan. Dengan dasar keyakinan dan bukan hanya sekedar percaya.
Yang keempat adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan yang disebut delapan jalan utama (Hasta Ariya Magga) yang terdiri dari:
1.      Pandangan Benar
2.      Pikiran Benar
3.      Ucapan Benar
4.      Perbuatan Benar
5.      Mata pencaharihan Benar
6.      Daya Upaya Benar
7.      Perhatian Benar.
8.      Konsentrasi Benar.

Untuk mencapai kebahagian, jalan itu harus dilaksanakan, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menjalankan kehidupan dengan baik tentu kemudahan ekonomi dan pemenuhan  kebutuhan hidup yang cukup akan lebih membantu setiap manusia untuk melaksanakan Dhamma sehingga tujuan termulia dari kehidupan manusia tercapai. Hal itu perlu dilakukan penataan dan persiapan serta metode yang tepat.

Program pemerintah tentang Keluarga berencana pada hakekatnya untuk meringankan penderitaan para keluarga (manusia) untuk mencapai kesejahteraan lahir batin. Timbulnya usaha Keluarga berencana karena belum tercapainya cita-cita Negara Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila, yaitu kemakmuran dan kesejahteraan sebagian masyarakat belum tercapai. Salah satu faktornya adalah Ledakan penduduk penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan bahan makanan, sarana sosial dan Pendiddikan.

Sebagian keluarga yang tidak bahagia, ialah karena terlalu banyak anak, yang melampui kemampuan orang tua untuk, memelihara, merewat serta mendidik dengan baik. Disamping terlalulbanyak anak jarak kelahiran yang terlalu dekat sangat menggagu kesehatan sang ibu.

Haruslah diingat bahwa setiap terjadinya hubungan biologis kemungkinan terjadionya kehamilan tidak dapat dicegah, meskipun tidak menginginkannya lagi. Dengan adanya keluarga Berencana dianjurkan kepada setiap umat Buddhis yang sudah berkeluarga untuk mengikuti program tersebut.

G.     Kesimpulan
Keluarga Berencana diterima dalam agama Buddha dan tidak bertentangan dengan Ajaran Sang Buddha. Namun Demikian diharapkan Pihak pemerintah selalu aktip dalam memberikan kemudahan pelayanan dan penyuluhan tentang pentingnya keluarga berencana.

H.     Penutup
Hidup berkeluarga hendaknya didahului dengan perkawinan yang memebimbing suami istri dari kebutuhan biologis ke psykologis dan akhinya ke sepiritual bersama-sama menuju kesempurnaan jiwa sebagai pencapaian kebahagiaan manusia yang tertingi. Bilamana berkeinginan memeperbaiki masayrakat harus diawali dulu dari keluarga. Bila setiap keluarga telah hidup makmur dan sejatera maka kesejahteraan dan kemakmuran tercapai seseuai Dengan cita-cita Negara Republik Indonesia  yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Download Pdf
                                                              Denpasar, 12 Juli 2003





Daftar Bacaan

Jo Priastana S.S., M. Hum, 2000 “ Buddha Dhamma Kontekstual” , Yasodara Putri, Jakarta.

Keluarga Mahasiswa Buddhis malang, rumpun Pemuda Pelajar Buddhis malang, 1989 “ Temu Wicara Meningkatkan Prestasi anak Dengan Membina Keluarga Harmonis”, Malang

Majelis Buddhayana Indonesia, 1980 “ Kebahagiaan Dalam Dhamma” Jakarta.

Senin, 17 Mei 2010

BERANDA

SELAMAT DATANG DI JALINAN GURU AGAMA BUDDHA

Mengambil nama Mengabdi Dalam Dhamma pada awalnya tanpa suatu kesepakatan untuk tampilan Blog Guru agama Buddha. Namun diantara Teman Tim Kontirbutor langsung sepakat karena Blog ini merupakan sites untuk halaman Guru Agama Buddha Indonesia di jalinan Sosial Facebook. akan sangat marak bila diantara teman guru bertandang untuk menggoreskan ide kreatif pikiran untuk dibagi kepada teman yang lain. karena nilai tertingggi dari sebuah dana adalah Dana Dharma. semoga ini menjadi sambutan yang hangat untuk teman sekalian di mana saja anda berada.




Minggu, 16 Mei 2010

Permakluman


Permakluman

Kepada segenap pemirsa http://www.guruagamabuddha.co.cc

Kami mohon maaf, atas berbagai pertimbangan akhirnya alamat tersebut di gunakan untuk sites Guru Agama Buddha Indonesia    dengan url https://sites.google.com/a/guruagamabuddha.co.cc/gab/  .  sementara blog guru beralih ke alamat http://www.guruagamabuddhaindonesia.co.cc   . kami menyadari perubahan ini akan mempengaruhi banyak hal, namun kami akan menyesuaikan secara bertahap.  Kami segenap Tim Blog Guru mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.

Namun yang lebih menguntungkan adalah di sites Guru Agama Buddha Indonesia  para guru bisa mengembangkan sites  sendiri gratis terbatas tersedia 50 domain, atau memperoleh email dari guruagamabuddha.co.cc dengan menggunakann APPS sites google.com. Caranya kirim alamat email anda ke forum@guruagamabuddha.co.cc untuk mendapatkan email dari guruagamabuddha.co.cc

Atau
Sign in to domain services:
•Email - https://mail.google.com/a/guruagamabuddha.co.cc
•Calendar - https://www.google.com/calendar/hosted/guruagamabuddha.co.cc
•Docs - https://docs.google.com/a/guruagamabuddha.co.cc
•Chat - download Google Talk client
•Sites - https://sites.google.com/a/guruagamabuddha.co.cc
selamat mencoba dan terimakasih.

Kamis, 25 Maret 2010

Naskah dan Artikel

Minggu, 21 Maret 2010

RPP SMP Kelas VII/1




RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Mata Pelajaran :  Pendidikan Agama Buddha
Kelas/Semester            :  VII/1
Pertemuan ke-              : 1-2
Standar Kompetensi     : 1. Memahami komponen dan kriteria agama Buddha.
Kompetensi Dasar        : 1.1 Menjelaskan hakikat Tuhan Yang Maha Esa.
Indikator                      : 1. Mendeskripsikan Tuhan dalam agama Buddha.
  2.  Membaca doa-doa agama Buddha (paritta) dalam  berbagai peristiwa.
  3.  Melakukan ibadah Buddha (puja bakti)

I.  Tujuan Pembelajaran
 Setelah pembelajaran berlansung maka tujuannya sebagai siswa:
1.      Mengkaji hakikat  Tuhan sesuai kitab Udana VIII:3
2.      Menerapkan doa-doa agama Buddha sesuai keperluan.
3.      Menyusun amisa puja
4.      Melaksanakan praktek puja bakti.

II.   Materi Pembelajaran
Hakikat ketuhanan
            Praktik ibadah Buddha

III.   Model Pembelajaran    
 Pendekatan CTL


IV. Langkah-langkah Pembelajaran

Pertemuan I
·        Kegiatan Pendahuluan
                   a.            Do’a pembukaan
                  b.            Motivasi dan Apersepsi
                   c.            Menyampaikan tujuan pembelajaran

·        Kegiatan Inti:
Eksplorasi
a.       Informasi tentang Ketuhanan dalam agama Buddha
b.      Membentuk kelompok untuk berdiskusi tentang hakikat Tuhan dalam agama Buddha.
c.       Memberikan pertanyaan kepada setiap kelompok untuk didiskusikan
d.      Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas dan kelompok lain menanggapi
e.       Memberikan penilaian

3. Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan materi pembelajaran
b.      Evaluasi proses pembelajaran.
c.       Pemberian tugas lanjutan untuk pertemuan akan datang agar membawa amisa puja dan buku parita
d.      Doa penutup pendidikan.

Pertemuan II
1. Kegiatan Pendahuluan
1.      Do’a pembukaan
2.      Motivasi dan Apersepsi
3.      Menyampaikan tujuan puja bakti dan kegunaan paritta



2.  Kegiatan Inti:
1.      Siswa menyusun amisa puja sesuai dengan kelommpoknya
2.      Siswa melaksanakan puja bakti dengan melafalkan paritta
3.      Memberikan penilaian

3.  Kegiatan Penutup
a.    Menyimpulkan materi pembelajaran
b.    Evaluasi proses pembelajaran.
c.    Pemberian penguatan untuk melaksanakan puja bakti setiap hari dirumah masing-masing
d.    Doa penutup pendidikan.

V.   Sumber Belajar
a.       Buku paket
b.      Kitab Suci Tipitaka (Udana)
c.       Buku Paritta/Tuntunan Kebaktian.

VI.   Penilaian
Jenis Tes
     
            Bentuk Tes

Soal

Kunci Jawaban

Kriteria Penilaian



















Pedoman Penskoran
Penialian pertemuan I

No
Asefek yang dinilai
Skor
Jumlah Skor
1
2
3
4
1

2

3

4

5
Kemampuan kerja sama kelompok

Penguasaan  materi

Kemampuan menyajikan didepan kelas

Menjawab pertanyaan

Keaktifan bertanya







Keterangan
1          = kurang
2          = cukup
3          = baik
4          = sangat baik

Nilai = jumlah skor
                 5
Pedoman Penskoran
Penialian pertemuan II

No
Asefek yang dinilai
Skor
Jumlah Skor
1
2
3
4
1

2

3

4

5
Kemampuan kerja sama kelompok

Kelengkapan amisa puja

Kesempurnaan namakara

Ketepatan melafal parita

Kesesuaian Irama







Keterangan
1          = kurang
2          = cukup
3          = baik
4          = sangat baik

Nilai = jumlah skor
                 5












RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(II)

Mata Pelajaran             :  Pendidikan Agama Buddha
Kelas/Semester                        :  VII/1
Standar Kompetensi     : 1. Memahami komponen dan kriteria agama Buddha.
Kompetensi Dasar        : 1.2.  Menjelaskan kitab suci, tempat ibadah dan lambang-lambang dalam agama
          Buddha
Indikator                      :
1.  Mendeskripsikan kitab suci agama Buddha
2.  Menjelaskan tempat ibadah agama Buddha
3.  Mendeskripsikan lambang-lambang dalam agama Buddha
4.  Menjelaskan makna lambang-lambang agama Buddha

I.  Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran berlansung maka tujuannya sebagai siswa:
1. Meneceritakan sejarah dasar-dasar pelestarian dhamma
2. Menunjukkan bagian dari Tripitaka
3. Menunjukkan  macam-macam tempat ibadah agama buddha
4. Menjelaskan makna lambang-lambang agama buddha

II.   Materi Pembelajaran
·         Kitab suci
·         Tempat ibadah
·         Lambang-lambang dalam agama Buddha  
III.   Metode Pembelajaran  

IV.   Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran:

Pertemuan I
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Motivasi dan Apersepsi
c.       Informasi tentang tujuan pembelajaran

2.  Kegiatan Inti:
a.       Membentuk kelompok untuk menggali sejarah dasar-dasar pelestarian dhamma
b.      Bertanya-jawab tentang Konsili yang dilakukan Sangha
c.       Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan

3.      Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan hasil diskusi
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian tugas-tugas mengerjakan PR di LKS
d.      Memberikan pengumuman membawa alat kertas 5 warna, guntung dan lem kertas
e.       Doa penutup pendidikan.

Pertemuan II
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Motivasi dan Apersepsi
c.       Informasi tentang tujuan pembelajaran

2.  Kegiatan Inti:
a.       Siswa membaca buku paket tentang bagian-bagian tripitaka
b.      Siwa mengerjakan LKS
c.       Membahas LKS bersama-sama
d.      Memberikan penilaian

3.      Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan hasil diskusi
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Memberikan pengumuman pertemuan selanjutnya ulangan harian
d.      Doa penutup pendidikan.

Pertemuan III

1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Motivasi dan Apersepsi
c.       Informasi tentang tujuan pembelajaran
  
2.  Kegiatan Inti:
a.       Guru memajang gambar  tempat ibadah dan  obyek-obyek pemujaan
b.      Mengamati gambar-gambar tempat ibadah dan memberikan
c.       Memberikan tanggapan
d.      Mengerjakan soal-soal di LKS
e.       Memberikan penilaian

3.  Kegiatan Penutup
a.  Menyimpulkan materi pembelajaran
b.       Evaluasi proses pembelajaran
c.  Pemberian tugas membawa kertas 5 warna, lem, gunting dan penggaris
d.       Doa penutup pendidikan

Pertemuan IV

1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidika
b.      Motivasi dan Apersepsi
c.       Informasi tentang tujuan pembelajaran
  
2.  Kegiatan Inti:
a.       Guru menugaskan kepada siswa untuk membuat bendera buddhis
b.      Mempresentasikan makna warna bendera buddhis
c.       Mamajang hasil
d.      Memberikan penilaian

3.  Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan materi pembelajaran
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian tugas membawa kertas 5 warna, lem, gunting dan penggaris
d.      Doa penutup pendidikan

V.   Alat/ Media/ Sumber Belajar
  1. Buku paket
  2. Kitab Suci Tipitaka (dhammapada)
  3. LKS
  4. Gambar candid an vihara

VI.   Penilaian
a.  Teknik                                       : Tes
b.  Bentuk Instrumen                       : uraian bebas
c.  Contoh Instrumen                      :

1)      Mengapa bhikhu Subadha merasa bebas berbuat sesukanya?
2)      Apa yang dilakukan bhikhu Kassapa thera?
3)      Sebutkan bagian dari Tripitaka!







      Penilaian 2:
      a.  Teknik                                       : Tes unjuk kerja
      b.  Bentuk Instrumen                       : Tes uji produk
      c.  Contoh Instrumen                      :
1)      Buatlah bendera buddhis dari kertas!



Mengetahui,                                                                                          Tabanan, ...........................
Kepala SMP                                                                                        Guru Agama Buddha





                                                                                   














RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(III)

Mata Pelajaran             :  Pendidikan Agama Buddha
Kelas/Semester                        :  VII/1
Pertemuan ke               :
Standar Kompetensi     : 1. Memahami komponen dan kriteria agama Buddha.
Kompetensi Dasar        : 1.3.  Mengidentifikasikan kriteria agama Buddha dan umat Buddha

Indikator                      :
1.  Menjelaskan kriteria agama Buddha
2.  Menjelaskan kelompok umat Buddha
3.  Menyajikan dalam bentuk tabel tentang jenis-jenis agama dan tingkat-tingkat kerochanian umat
    Buddha


I.  Tujuan Pembelajaran
:  Peserta didik mampu:
1. Menjelaskan kriteria agama buddha
2. Menjelaskan unjukkan bagian dari Tripitaka
4. Menunjukkan tempat macam-macam tempat ibadah agama buddha
5. Menjelaskan makna lambang-lambang agama buddha

II.   Materi Pembelajaran     
·         Kitab suci
·         Tempat ibadah
·         Lambang-lambang dalam agama Buddha  
III.   Metode Pembelajaran  
 Pendekatan CTL        

IV.   Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Motivasi dan Apersepsi
c.       Informasi tentang tujuan pembelajara

  1. Kegiatan Inti:
a.       Membentuk kelompok untuk berdiskusi tentang Sejarah dasar-dasar pelestarian dhamma
b.      Bertanya-jawab tentang Konsili yang dilakukan Sangha
c.       Membaca buku paket tentang Tripitaka dan bagian-bagiannya
d.      Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan

  1. Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan hasil diskusi
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian tugas-tugas mengerjakan PR di LKS
d.      Memberikan pengumuman membawa alat kertas 5 warna, guntung dan lem kertas
e.       Doa penutup pendidikan.

Pertemuan Kedua
1. Kegiatan Pendahuluan
a.         Doa pembuka pendidikan
b.        Membahas PR
c.         Motivasi dan Apersepsi
d.        Informasi tentang tujuan pembelajaran
  
2.  Kegiatan Inti:
a.       Mengamati gambar-gambarr tempat ibadah dan memberikan tanggapan
b.      Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat bendera buddies dari kertas
c.       Memajang hasil kerja dan pemberian nilai

3.  Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan materi pembelajaran
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian Pengumuman pertemuan akan datang ulangan harian
d.      Mendokumentasikan  hasil kerja
e.       Doa penutup pendidikan

V.   Alat/ Media/ Sumber Belajar
a.       Buku paket
b.      Kitab Suci Tipitaka (dhammapada)
c.       LKS
d.      Gambar candid an vihara

F.   Penilaian
a.  Teknik                                       : Tes Unjuk kerja
b.  Bentuk Instrumen                       : Uji Produk
c.  Contoh Instrumen                      :

4)      Mengapa bhikhu Subadha merasa bebas berbuat sesukanya?
5)      Apa yang dilakukan bhikhu Kassapa thera?
6)      Sebutkan bagian dari Tripitaka!

      Penilaian 2:
      a.  Teknik                                       : Tes unjuk kerja
      b.  Bentuk Instrumen                       : Tes uji produk
      c.  Contoh Instrumen                      :
2)      Buatlah bendera buddhis dari kertas!



Mengetahui,                                                                                          Tabanan, ...........................
Kepala SMP                                                                                        Guru Agama Buddha










RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(IV)

Mata Pelajaran             :  Pendidikan Agama Buddha
Kelas/Semester                        :  VII/1
Pertemua ke                 :
Standar Kompetensi     : 1. Memahami komponen dan kriteria agama Buddha.
Kompetensi Dasar        : 1.3.  Mengidentifikasikan kriteria agama Buddha dan umat Buddha

Indikator                      :
1.      Menjelaskan kriteria agama Buddha
2.      Menjelaskan kelompok umat Buddha
3.      Menyajikan dalam bentuk tabel tentang jenis-jenis agama dan tingkat-tingkat kerochanian umat
4.      Buddha


I.  Tujuan Pembelajaran
            :  Peserta didik mampu:
1. Menjelaskan kriteria agama buddha
2. Menjelaskan unjukkan bagian dari Tripitaka
4. Menunjukkan tempat macam-macam tempat ibadah agama buddha
5. Menjelaskan makna lambang-lambang agama buddha

II.   Materi Pembelajaran
·         Kitab suci
·         Tempat ibadah
·         Lambang-lambang dalam agama Buddha  
III.   Metode Pembelajaran  
: Pendekatan CTL       

IV.   Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Motivasi dan Apersepsi
c.       Informasi tentang tujuan pembelajara

  1. Kegiatan Inti:
a.       Membentuk kelompok untuk berdiskusi tentang Sejarah dasar-dasar pelestarian dhamma
b.      Bertanya-jawab tentang Konsili yang dilakukan Sangha
c.       Membaca buku paket tentang Tripitaka dan bagian-bagiannya
d.      Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan

  1. Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan hasil diskusi
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian tugas-tugas mengerjakan PR di LKS
d.      Memberikan pengumuman membawa alat kertas 5 warna, guntung dan lem kertas
e.       Doa penutup pendidikan.

Pertemuan Kedua
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Membahas PR
c.       Motivasi dan Apersepsi
d.      Informasi tentang tujuan pembelajaran
  
2.  Kegiatan Inti:
a.       Mengamati gambar-gambarr tempat ibadah dan memberikan tanggapan
b.      Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat bendera buddies dari kertas
c.       Memajang hasil kerja dan pemberian nilai

3.  Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan materi pembelajaran
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian Pengumuman pertemuan akan datang ulangan harian
d.      Mendokumentasikan  hasil kerja
e.       Doa penutup pendidikan
V.   Alat/ Media/ Sumber Belajar

a.       Buku paket
b.      Kitab Suci Tipitaka (dhammapada)
c.       LKS
d.      Gambar candid an vihara

VI.   Penilaian
a.  Teknik                                       : Tes Unjuk kerja
b.  Bentuk Instrumen                       : Uji Produk
c.  Contoh Instrumen                      :

7)      Mengapa bhikhu Subadha merasa bebas berbuat sesukanya?
8)      Apa yang dilakukan bhikhu Kassapa thera?
9)      Sebutkan bagian dari Tripitaka!

      Penilaian 2:
      a.  Teknik                                       : Tes unjuk kerja
      b.  Bentuk Instrumen                       : Tes uji produk
      c.  Contoh Instrumen                      :
3)      Buatlah bendera buddhis dari kertas!



Mengetahui,                                                                                          Tabanan, ...........................
Kepala SMP                                                                                        Guru Agama Buddha




















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(V)

Mata Pelajaran :  Pendidikan Agama Buddha
Kelas/Semester            :  VII/1
Pertemuan ke-              :
Standar Kompetensi     : 1. Memahami komponen dan kriteria agama Buddha.
Kompetensi Dasar        : 1.3.  Mengidentifikasikan kriteria agama Buddha dan umat Buddha

Indikator                      :
4.  Menjelaskan kriteria agama Buddha
5.  Menjelaskan kelompok umat Buddha
6.  Menyajikan dalam bentuk tabel tentang jenis-jenis agama dan tingkat-tingkat kerochanian umat
    Buddha


I.  Tujuan Pembelajaran       
:  Peserta didik mampu:
1. Menjelaskan kriteria agama buddha
2. Menjelaskan unjukkan bagian dari Tripitaka
4. Menunjukkan tempat macam-macam tempat ibadah agama buddha
5. Menjelaskan makna lambang-lambang agama buddha

II.   Materi Pembelajaran     
·         Kitab suci
·         Tempat ibadah
·         Lambang-lambang dalam agama Buddha  
III.   Metode Pembelajaran  
: Pendekatan CTL       

IV.   Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Motivasi dan Apersepsi
c.       Informasi tentang tujuan pembelajara

  1. Kegiatan Inti:
a.       Membentuk kelompok untuk berdiskusi tentang Sejarah dasar-dasar pelestarian dhamma
b.      Bertanya-jawab tentang Konsili yang dilakukan Sangha
c.       Membaca buku paket tentang Tripitaka dan bagian-bagiannya
d.      Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan

  1. Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan hasil diskusi
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian tugas-tugas mengerjakan PR di LKS
d.      Memberikan pengumuman membawa alat kertas 5 warna, guntung dan lem kertas
e.       Doa penutup pendidikan.

Pertemuan Kedua
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Membahas PR
c.       Motivasi dan Apersepsi
d.      Informasi tentang tujuan pembelajaran
  
2.  Kegiatan Inti:
a.       Mengamati gambar-gambarr tempat ibadah dan memberikan tanggapan
b.      Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat bendera buddies dari kertas
c.       Memajang hasil kerja dan pemberian nilai

3.  Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan materi pembelajaran
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian Pengumuman pertemuan akan datang ulangan harian
d.      Mendokumentasikan  hasil kerja
e.       Doa penutup pendidikan
V.   Alat/ Media/ Sumber Belajar

a.       Buku paket
b.      Kitab Suci Tipitaka (dhammapada)
c.       LKS
d.      Gambar candid an vihara

VI.   Penilaian
a.  Teknik                                       : Tes Unjuk kerja
b.  Bentuk Instrumen                       : Uji Produk
c.  Contoh Instrumen                      :

10)  Mengapa bhikhu Subadha merasa bebas berbuat sesukanya?
11)  Apa yang dilakukan bhikhu Kassapa thera?
12)  Sebutkan bagian dari Tripitaka!

      Penilaian 2:
      a.  Teknik                                       : Tes unjuk kerja
      b.  Bentuk Instrumen                       : Tes uji produk
      c.  Contoh Instrumen                      :
4)      Buatlah bendera buddhis dari kertas!



Mengetahui,                                                                                          Tabanan, ...........................
Kepala SMP                                                                                        Guru Agama Buddha





















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(VI)

Mata Pelajaran :  Pendidikan Agama Buddha
Kelas/Semester            :  VII/1
Pertemuam ke- :
Standar Kompetensi     : 1. Memahami komponen dan kriteria agama Buddha.
Kompetensi Dasar        : 1.3.  Mengidentifikasikan kriteria agama Buddha dan umat Buddha

Indikator                      :
1.      Menjelaskan kriteria agama Buddha
2.      Menjelaskan kelompok umat Buddha
3.      Menyajikan dalam bentuk tabel tentang jenis-jenis agama dan tingkat-tingkat kerochanian umat Buddha


I. Tujuan Pembelajaran
    Setelah pembelajaran berlangsung maka tujuannya sebagai berikut :

1. Menjelaskan kriteria agama buddha
2. Menjelaskan unjukkan bagian dari Tripitaka
4. Menunjukkan tempat macam-macam tempat ibadah agama buddha
5. Menjelaskan makna lambang-lambang agama buddha

II.   Materi Pembelajaran     
·         Kitab suci
·         Tempat ibadah
·         Lambang-lambang dalam agama Buddha  
III.   Metode Pembelajaran  
: Pendekatan CTL       

IV.   Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Motivasi dan Apersepsi
c.       Informasi tentang tujuan pembelajara

  1. Kegiatan Inti:
a.         Membentuk kelompok untuk berdiskusi tentang Sejarah dasar-dasar pelestarian dhamma
b.        Bertanya-jawab tentang Konsili yang dilakukan Sangha
c.         Membaca buku paket tentang Tripitaka dan bagian-bagiannya
d.        Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan

  1. Kegiatan Penutup
a.         Menyimpulkan hasil diskusi
b.        Evaluasi proses pembelajaran
c.         Pemberian tugas-tugas mengerjakan PR di LKS
d.        Memberikan pengumuman membawa alat kertas 5 warna, guntung dan lem kertas
e.         Doa penutup pendidikan.

Pertemuan Kedua
1. Kegiatan Pendahuluan
a.       Doa pembuka pendidikan
b.      Membahas PR
c.       Motivasi dan Apersepsi
d.      Informasi tentang tujuan pembelajaran
  
2.  Kegiatan Inti:
a.       Mengamati gambar-gambarr tempat ibadah dan memberikan tanggapan
b.      Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat bendera buddies dari kertas
c.       Memajang hasil kerja dan pemberian nilai

3.  Kegiatan Penutup
a.       Menyimpulkan materi pembelajaran
b.      Evaluasi proses pembelajaran
c.       Pemberian Pengumuman pertemuan akan datang ulangan harian
d.      Mendokumentasikan  hasil kerja
e.       Doa penutup pendidikan

V.   Alat/ Media/ Sumber Belajar
a.       Buku paket
b.      Kitab Suci Tipitaka (dhammapada)
c.       LKS
d.      Gambar candid an vihara

VI.   Penilaian
a.  Teknik                                       : Tes Unjuk kerja
b.  Bentuk Instrumen                       : Uji Produk
c.  Contoh Instrumen                      :

13)  Mengapa bhikhu Subadha merasa bebas berbuat sesukanya?
14)  Apa yang dilakukan bhikhu Kassapa thera?
15)  Sebutkan bagian dari Tripitaka!

      Penilaian 2:
      a.  Teknik                                       : Tes unjuk kerja
      b.  Bentuk Instrumen                       : Tes uji produk
      c.  Contoh Instrumen                      :
5)      Buatlah bendera buddhis dari kertas!
Mengetahui,                                                                                          Tabanan, ...........................
Kepala SMP Negeri                                                                             Guru Agama Buddha

                                                                                   













On Facebook

Connect with Facebook
 
Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template Vector by DaPino
Direktori Website Indonesia Connect